Dulu, Saat Kerobokan Hanya Penjara

Belum terlalu lama sepertinya

pantai Kuta hanya hamparan pasir putih,

tempat bermain peselancar dan pengagum mereka berjemur telanjang dada.

Jalan raya hanya jalan setengah beraspal

dan cahaya yang ada berasal dari warung nasi yang menjual bir Bintang.

Belum sangat lama rasanya

Petitenget hanyalah pura tepi laut,

Satu hotel, satu tempat makan, satu villa,

banyak sawah.

Malam sampai tak terlihat.

Kalau kamu nakal, ayah tinggal disini.

Aku berusia delapan tahun, bergidik ngeri

Belum terlampau jauh tampaknya

perjalanan sekeliling kota diukur dengan menit

dan alasan macet belum dipergunakan.

Tidak banyak Avanza.

Apalagi Innova.

Belum begitu tua ingatan

saat berjalan di antara sawah

berarti berjalan di kehijauan padi

bukan berjalan di antara hutan bangunan berlanggam ”Bali Style”

beratapkan alang-alang, berlantaikan marmer, berdindingkan beton

berhiaskan pohon kamboja

seperti saat ini

Kini:

Low season, high season (atau begitu kata villa)

Hello sir, hello beautiful (atau begitu kata anak pantai)

Transport, massage, tattoo (atau begitu kata-kata di Legian)

Mushroom, taxi (atau begitu kata-kata di Double Six)

I have a pretty sister, sir (atau begitu kata di Sanur)

Hello, handsome (atau begitu kata di Dhyanapura)

Denpasar, 7052010.

Blog pada WordPress.com.
Tema: Esquire oleh Matthew Buchanan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 301 pengikut lainnya.